Rapat
Perkum No. 10/2025
BAB I - Ketentuan Umum
Section titled “BAB I - Ketentuan Umum”Pasal 1 Dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini yang dimaksud dengan:
-
Rapat adalah suatu pertemuan dalam rangka membuat keputusan dan ketetapan perkumpulan yang dilakukan di tingkat kepengurusan masing-masing.
-
Keputusan rapat adalah hasil atau ketetapan yang diambil dalam suatu rapat berdasarkan pembahasan atau kesepakatan peserta rapat.
-
Peserta rapat adalah fungsionaris atau perwakilan lembaga, badan otonom atau badan khusus yang diundang dan hadir dalam rapat dalam pembahasan, pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan rapat.
-
Fungsionaris pengurus Nahdlatul Ulama, selanjutnya dapat disebut fungsionaris, adalah anggota atau kader Nahdlatul Ulama yang namanya tercatat dalam suatu Susunan Pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat kepengurusan tertentu yang telah memperoleh pengesahan dari Kepengurusan yang yang berwenang;
-
Kuorum rapat adalah batas jumlah minimum peserta rapat sebagai syarat sah dilaksanakannya rapat.
-
Pimpinan rapat adalah fungsionaris pengurus Nahdlatul Ulama yang bertanggung jawab mengatur jalannya rapat.
-
Sekretaris rapat adalah fungsionaris pengurus Nahdlatul Ulama yang bertanggung jawab mencatat pembicaraan, keputusan dan ketetapan hasil rapat.
-
Risalah rapat adalah hasil rekaman lengkap rapat dari pembukaan sampai penutupan, baik secara tertulis, rekaman audio visual dan/atau menggunakan teknologi lainnya.
-
Rapat-rapat lain adalah rapat yang diselenggarakan sesuai kebutuhan perkumpulan.
BAB II - Jenis Rapat
Section titled “BAB II - Jenis Rapat”Pasal 2 Jenis-jenis rapat terdiri dari : a. Rapat Kerja Nasional; b. Rapat Pleno; c. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah; d. Rapat Harian Syuriyah; e. Rapat Harian Tanfidziyah; dan f. rapat-rapat lain.
Pasal 3 Rapat dapat dilakukan secara luring, daring atau kombinasi antara luring dan daring.
BAB III - Rapat Kerja Nasional
Section titled “BAB III - Rapat Kerja Nasional”Pasal 4
- (1) Rapat Kerja Nasional adalah rapat untuk membicarakan perencanaan, penjabaran dan pengendalian operasionalisasi keputusan Muktamar, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar.
- (2) Rapat Kerja Nasional dihadiri oleh dan wajib mengundang pengurus besar lengkap syuriyah, pengurus besar lengkap tanfidziyah, dan pengurus harian lembaga.
- (3) Rapat Kerja Nasional diadakan satu kali dalam setahun.
- (4) Rapat Kerja Nasional yang pertama diadakan selambat- lambatnya 3 (tiga) bulan setelah Muktamar.
- (5) Rapat Kerja Nasional sebagaimana ayat
- (3) dilaksanakan setiap awal tahun untuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- (6) Rapat Kerja Nasional tidak membuat keputusan yang menjadi kewenangan Muktamar, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar.
- (7) Pelaksanaan Rapat Kerja Nasional diputuskan dalam Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 5
- (1) Rapat Kerja Nasional dipimpin oleh Rais ‘Aam dan Ketua Umum.
- (2) Rais ‘Aam dan Ketua Umum dapat mendelegasikan tugasnya sebagai pimpinan Rapat Kerja Nasional kepada fungsionaris di bawahnya.
Pasal 6
- (1) Hasil Rapat Kerja Nasional termasuk berita acara harus ditandatangani oleh Rais ‘Aam dan Ketua Umum.
- (2) Apabila pimpinan rapat berhalangan, dokumen hasil rapat ditandatangani oleh pimpinan rapat yang ditunjuk sebagaimana Pasal 5 Ayat
- (2).
- (3) Keputusan Rapat Kerja Nasional mengikat seluruh unsur pengurus dan dapat mengoreksi/membatalkan keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
BAB IV - Rapat Pleno
Section titled “BAB IV - Rapat Pleno”Pasal 7
- (1) Rapat Pleno dihadiri oleh dan wajib mengundang mustasyar, pengurus lengkap syuriyah, pengurus harian tanfidziyah, ketua lembaga, dan ketua umum/ketua badan otonom di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Rapat Pleno diadakan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.
- (3) Rapat Pleno membicarakan pelaksanaan program kerja dan/ atau hal-hal lain yang perlu diputuskan di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (4) Sesuai kewenangannya di tingkat kepengurusan masing- masing, Rapat Pleno dapat menetapkan Peraturan PBNU, Peraturan PWNU, dan Peraturan PCNU serta menetapkan Pejabat Rais Aam/Rais Syuriyah dan/atau Ketua Umum/Ketua Tanfidziyah dalam hal terjadi pergantian antar waktu di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (5) Pemberitahuan pelaksanaan rapat pleno dan agenda rapat disampaikan secara resmi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum hari pelaksanaan baik melalui surat elektronik dan/ atau surat berbentuk fisik.
Pasal 8
- (1) Rapat Pleno dipimpin oleh Rais Aam/Rais di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Dalam hal Rais Aam/Rais berhalangan tetap maka rapat pleno dipimpin oleh Wakil Rais Aam/salah satu Wakil Rais.
- (3) Rais ‘Aam/Rais dapat mendelegasikan pimpinan rapat kepada Ketua Umum/Ketua di tingkat kepengurusan masing-masing.
Pasal 9
- (1) Hasil-hasil Rapat Pleno, termasuk berita acara harus ditanda tangani oleh Rais ‘Aam/Rais/Wakil Rais, Katib ‘Aam/Katib/ Wakil Katib di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Apabila Rais ‘Aam/Rais, Katib ‘aam/Katib berhalangan maka dokumen hasil rapat ditandatangani oleh pimpinan rapat yang ditunjuk.
- (3) Hasil-hasil Rapat Pleno mengikat seluruh unsur Pengurus dan dapat mengoreksi atau membatalkan keputusan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah di tingkat kepengurusan masing- masing.
- (4) Setiap kepengurusan yang menyelenggarakan Rapat Pleno wajib menyimpan dokumen hasil rapat, daftar hadir dan foto kegiatan rapat selama masa khidmat kepengurusannya.
BAB V - Rapat Harian Syuriyah Dan Tanfidziyah
Section titled “BAB V - Rapat Harian Syuriyah Dan Tanfidziyah”Pasal 10
- (1) Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dihadiri oleh dan wajib mengundang fungsionaris pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dilaksanakan sekurang- kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.
- (3) Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah membahas antara lain: a. laporan pelaksanaan program dan kegiatan oleh Pengurus Harian Tanfidziyah kepada Pengurus Harian Syuriyah;
b. Pengesahan Lembaga di tingkat kepengurusan masing- masing; c. pengesahan Surat Keputusan Pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat kepengurusan yang merupakan kewenangannya; d. pergantian antar waktu untuk jabatan selain Rais dan ketua; atau e. hal-hal lain yang perlu diputuskan di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (4) Materi rapat harus disampaikan kepada peserta rapat sebelum rapat dilaksanakan.
- (5) Pemberitahuan pelaksanaan dan agenda Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah disampaikan secara resmi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum hari pelaksanaan baik melalui surat elektronik dan/atau surat berbentuk fisik.
Pasal 11
- (1) Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dipimpin oleh Rais Aam/Rais di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Rais ‘Aam dapat mendelegasikan pimpinan rapat kepada Wakil Rais Aam/Wakil Rais di tingkat kepengurusan masing-masing.
Pasal 12
- (1) Dokumen-dokumen hasil Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah ditandatangani oleh Rais ‘Aam/Rais, Katib ‘Aam/ Katib, Ketua Umum/Wakil Ketua Umum/Ketua, Sekretaris Jenderal/Wakil Sekretaris Jenderal/Sekretaris/Wakil Sekretaris di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Apabila Rais ‘Aam/Rais berhalangan maka dokumen hasil rapat ditandatangani oleh pimpinan rapat yang ditunjuk.
- (3) Keputusan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah mengikat seluruh pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah dan dapat mengoreksi atau membatalkan keputusan Rapat Harian Syuriyah dan atau keputusan Rapat Harian Tanfidziyah.
- (4) Risalah dan/atau hasil keputusan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dibagikan kepada peserta rapat pada hari yang sama setelah rapat berakhir.
- (5) Setiap kepengurusan yang menyelenggarakan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah wajib menyimpan dokumen hasil rapat, daftar hadir dan foto kegiatan rapat selama masa khidmat kepengurusannya.
BAB VI - Rapat Harian Syuriyah
Section titled “BAB VI - Rapat Harian Syuriyah”Pasal 13
- (1) Rapat Harian syuriyah dihadiri oleh dan wajib mengundang fungsionaris pengurus harian syuriyah, dan dapat mengikut sertakan Mustasyar.
- (2) Rapat Harian Syuriyah diadakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan sekali.
- (3) Rapat Harian Syuriyah membahas kelembagaan perkumpulan, pelaksanaan dan pengembangan program kerja, serta usulan Ahlul Halli wal ‘Aqdi.
- (4) Rapat Harian Syuriyah melalui pengurus harian Tanfidziyah dalam hal ini Sekretaris Jenderal/Sekretaris dapat mengundang lembaga, Badan Khusus dan Badan Otonom.
- (5) Pemberitahuan pelaksanaan Rapat Harian Syuriyah dan agenda rapat disampaikan secara resmi selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum hari pelaksanaan baik melalui surat elektronik dan/atau surat berbentuk fisik.
Pasal 14
- (1) Rapat Harian Syuriyah dipimpin oleh Rais Aam/Rais di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Rais ‘Aam dapat mendelegasikan pimpinan rapat kepada Wakil Rais Aam/Wakil Rais di tingkat kepengurusan masing-masing.
Pasal 15
- (1) Dokumen-dokumen hasil Rapat Harian Syuriyah ditandatangani oleh Rais ‘Aam/Rais di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Apabila Rais ‘Aam/Rais berhalangan maka dokumen hasil rapat ditandatangani oleh pimpinan rapat yang ditunjuk.
- (3) Keputusan Rapat Harian Syuriyah mengikat seluruh pengurus harian Syuriyah.
- (4) Setiap kepengurusan yang menyelenggarakan Rapat Harian Syuriyah wajib menyimpan dokumen hasil rapat, daftar hadir dan foto kegiatan rapat selama masa khidmat kepengurusannya.
BAB VII - Rapat Harian Tanfidziyah
Section titled “BAB VII - Rapat Harian Tanfidziyah”Pasal 16
- (1) Rapat Harian Tanfidziyah dihadiri oleh dan wajib mengundang Pengurus Harian Tanfidziyah di tingkat kepengurusan masing- masing.
- (2) Rapat Harian Tanfidziyah dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan sekali.
- (3) Rapat Harian Tanfidziyah membahas kelembagaan perkumpulan, pelaksanaan dan perkembangan program kerja.
- (4) Rapat Harian Tanfidziyah dapat mengundang pengurus harian Lembaga, Badan Khusus dan Badan Otonom.
- (5) Pemberitahuan pelaksanaan Rapat Harian Tanfidziyah dan agenda rapat disampaikan secara resmi selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum hari pelaksanaan baik melalui surat elektronik dan/atau surat berbentuk fisik.
Pasal 17
- (1) Rapat Harian Tanfidziyah dipimpin oleh Ketua Umum/Ketua di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Ketua Umum/Ketua dapat mendelegasikan pimpinan rapat kepada Wakil Ketua Umum/Ketua/Wakil Ketua di tingkat kepengurusan masing-masing.
Pasal 18
- (1) Dokumen-dokumen hasil Rapat Harian Tanfidziyah ditanda tangani oleh Ketua Umum/Ketua di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (2) Apabila Ketua Umum/Ketua berhalangan maka dokumen hasil rapat ditandatangani oleh pimpinan rapat yang ditunjuk.
- (3) Keputusan Rapat Harian Tanfidziyah mengikat seluruh Pengurus Harian Tanfidziyah.
- (4) Risalah dan/atau hasil keputusan Rapat Harian Tanfidziyah dibagikan kepada peserta rapat dan dilaporkan kepada Rais Aam/Rais pada hari yang sama setelah rapat berakhir.
- (5) Setiap kepengurusan yang menyelenggarakan Rapat Harian Tanfidziyah wajib menyimpan dokumen hasil rapat, daftar hadir dan foto kegiatan rapat selama masa khidmat kepengurusannya.
BAB VIII - Rapat-Rapat Lain
Section titled “BAB VIII - Rapat-Rapat Lain”Pasal 19
- (1) Rapat yang diselenggarakan sesuai kebutuhan yang diperlukan oleh perkumpulan di lingkungan Nahdlatul Ulama seperti Rapat Mustasyar, rapat koordinasi antar Lembaga, Badan Khusus dan Badan Otonom Nahdlatul Ulama.
- (2) Keputusan rapat ini bersifat koordinatif, tidak mengikat dan dapat dikoreksi pada Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
- (3) Administrasi rapat-rapat lain dilakukan oleh Pengurus Harian Tanfidziyah di tingkat kepengurusan masing-masing melalui kesekjenan/kesekretariatan.
BAB IX - Kuorum Rapat
Section titled “BAB IX - Kuorum Rapat”Pasal 20
- (1) Setiap rapat harus memenuhi kuorum.
- (2) Rapat dianggap kuorum apabila dihadiri oleh setengah lebih satu dari jumlah peserta rapat yang seharusnya.
- (3) Apabila Ayat
- (2) tidak tercapai, rapat ditunda selama 1x30 (satu kali tiga puluh) menit untuk menghadirkan peserta.
- (4) Rapat dianggap kuorum dan sah setelah batas waktu penundaan berakhir.
- (5) Peserta rapat yang memberitahukan ketidakhadirannya secara lisan atau tertulis dianggap hadir untuk memenuhi syarat kuorum.
BAB X - Ketentuan Peralihan
Section titled “BAB X - Ketentuan Peralihan”Pasal 21
- (1) Teknis administrasi rapat-rapat dilakukan oleh Pengurus Harian Tanfidziyah melalui kesekjenan/kesekretariatan.
- (2) Segala peraturan yang bertentangan dengan Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini dinyatakan tidak berlaku lagi.
BAB XI - Ketentuan Penutup
Section titled “BAB XI - Ketentuan Penutup”Pasal 22
- (1) Peraturan Perkumpulan ini adalah perubahan dari Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 10 Tahun 2022 tentang Tata Cara Rapat dan Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 8 Tahun 2023 tentang Rapat.
- (2) Ketentuan peraturan yang bertentangan atau tidak sejalan dengan peraturan perkumpulan Nahdlatul Ulama ini dinyatakan tidak berlaku.
- (3) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini akan diatur kemudian dalam Peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- (4) Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 7 Sya’ban 1446 H 6 Februari 2025 M