Tata Cara Pelantikan Kepengurusan
Perkum No. 6/2025
BAB I - Ketentuan Umum
Section titled “BAB I - Ketentuan Umum”Pasal 1
- (1) Kepengurusan Nahdlatul Ulama, selanjutnya disingkat kepengurusan, adalah susunan pengurus yang menjalankan aktivitas Pengurus Nahdlatul Ulama di suatu wilayah khidmat pada masa khidmat tertentu yang telah memperoleh pengesahan dari kepengurusan yang berwenang.
- (2) Pelantikan kepengurusan, selanjutnya disingkat pelantikan, adalah acara resmi pengucapan baiat bagi seluruh pengurus harian kepengurusan sebelum memangku jabatan di tingkat kepengurusan masing-masing.
- (3) Kepengurusan yang berwenang adalah kepengurusan yang memiliki kewenangan berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama untuk membentuk dan menetapkan suatu kepengurusan Nahdlatul Ulama.
- (4) PBNU adalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- (5) PWNU adalah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama.
- (6) PCNU adalah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama.
- (7) PCINU adalah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama.
- (8) MWCNU adalah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama.
BAB II - Pelantikan
Section titled “BAB II - Pelantikan”Pasal 2
- (1) Pengurus Nahdlatul Ulama di seluruh tingkat kepengurusan wajib menyelenggarakan pelantikan.
- (2) Setiap fungsionaris pengurus harian Nahdlatul Ulama wajib mengikuti pelantikan.
Pasal 3 Pengurus harian sebagaimana dimaksud pada Pasal 2, terdiri dari: a. pengurus harian hasil muktamar, konferensi wilayah, konferensi cabang, konferensi majelis wakil cabang, musyawarah ranting, dan musyawarah anak ranting; b. pengurus harian hasil Penunjukan Kepengurusan Dengan Masa Khidmat Terbatas; dan c. pengurus harian hasil Pergantian Antar Waktu.
Pasal 4 Pelantikan bagi pengurus harian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat diselenggarakan beriringan dengan musyawarah kerja di tingkat masing-masing atau dalam acara yang dilaksanakan khusus untuk itu.
Pasal 5
- (1) Pelantikan diselenggarakan setelah pengesahan Surat Keputusan diterbitkan oleh kepengurusan yang berwenang.
- (2) Pelantikan dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya Surat Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini.
- (3) Kepengurusan yang melantik adalah kepengurusan yang berwenang memberikan pengesahan terhadap kepengurusan yang dilantik.
BAB III - Susunan Acara Pelantikan
Section titled “BAB III - Susunan Acara Pelantikan”Pasal 6 Susunan acara pelantikan sekurang-kurangnya terdiri dari: a. pembukaan diawali dengan tawasul; b. pembacaan ayat-ayat Suci Al-Qur’an dan Sholawat Badar; c. menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya; d. menyanyikan Lagu Syubbanul Wathon; e. pembacaan Surat Keputusan Kepengurusan; f. pembaiatan; g. sambutan-sambutan; dan h. doa/penutup.
BAB IV - Pembacaan Surat Keputusan Dan Pembaiatan
Section titled “BAB IV - Pembacaan Surat Keputusan Dan Pembaiatan”Pasal 7 Ketentuan dalam Pelantikan PBNU adalah sebagai berikut: a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh Ketua Umum; dan b. pembaiatan dipimpin oleh Rais ‘Aam dan diikuti oleh seluruh Pengurus Besar Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 8 Ketentuan dalam Pelantikan PWNU adalah sebagai berikut: a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh PBNU; dan
b. pembaiatan dipimpin oleh Pengurus Besar Harian Syuriyah dan diikuti oleh seluruh Pengurus Wilayah Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 9 Ketentuan dalam Pelantikan PCNU adalah sebagai berikut: a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh PBNU atau dapat dimandatkan kepada PWNU; dan b. pembaiatan dipimpin oleh Pengurus Besar Harian Syuriyah atau dapat dimandatkan kepada Pengurus Wilayah Harian Syuriyah dan diikuti oleh seluruh Pengurus Cabang Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 9A Ketentuan dalam Pelantikan PCINU adalah sebagai berikut: a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh PBNU; dan b. pembaiatan dipimpin oleh Pengurus Besar Harian Syuriyah dan diikuti oleh seluruh Pengurus Cabang Istimewa Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 10 Ketentuan dalam Pelantikan MWCNU adalah sebagai berikut: a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh PCNU; dan b. pembaiatan dipimpin oleh Pengurus Cabang Harian Syuriyah dan diikuti oleh seluruh Majelis Wakil Cabang Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 11 Ketentuan dalam Pelantikan PRNU adalah sebagai berikut:
a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh PCNU atau dapat dimandatkan kepada MWCNU; dan b. pembaiatan dipimpin oleh Pengurus Cabang Harian Syuriyah atau dapat dimandatkan kepada Majelis Wakil Cabang Harian Syuriyah dan diikuti oleh seluruh Pengurus Ranting Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pasal 12 Ketentuan dalam Pelantikan PARNU adalah sebagai berikut: a. pembacaan Surat Keputusan dilakukan oleh MWCNU atau dapat dimandatkan kepada PRNU; b. pembaiatan dipimpin oleh Majelis Wakil Cabang Harian Syuriyah atau dapat dimandatkan kepada Pengurus Ranting Harian Syuriyah dan diikuti oleh seluruh Pengurus Anak Ranting Harian Syuriyah dan Tanfidziyah.
BAB V - Perlengkapan Pelantikan
Section titled “BAB V - Perlengkapan Pelantikan”Pasal 13 Perlengkapan pelantikan sekurang-kurangnya terdiri dari: a. Lambang Negara Garuda Pancasila; b. gambar resmi Presiden dan Wakil Presiden RI; c. Bendera Merah Putih; d. bendera/panji Nahdlatul Ulama; dan e. naskah baiat terlampir merupakan bagian yang tidak terpisah dari peraturan perkumpulan ini.
Pasal 14 Tata letak Perlengkapan pelantikan adalah sebagai berikut:
a. Lambang Negara Garuda Pancasila diletakkan di tengah atas antara gambar resmi Presiden dan Wakil Presiden; b. gambar resmi Presiden dan Wakil Presiden ditempatkan sejajar dan dipasang lebih rendah daripada Lambang Negara Garuda Pancasila; dan c. Bendera Merah Putih dibuat lebih besar, dipasang lebih tinggi daripada bendera/panji Nahdlatul Ulama, dan ditempatkan di sebelah kanan bendera/panji Nahdlatul Ulama.
BAB VI - Aturan Berpakaian
Section titled “BAB VI - Aturan Berpakaian”Pasal 15
- (1) Aturan berpakaian bagi fungsionaris pengurus harian laki-laki yang dilantik adalah sebagai berikut: a. memakai peci hitam polos; b. memakai seragam kemeja putih atau batik lengan panjang; c. memakai seragam celana panjang warna hitam atau sarung warna gelap; dan d. memakai sepatu/sandal slop.
- (2) Aturan berpakaian bagi fungsionaris pengurus harian perempuan yang dilantik adalah sebagai berikut: a. memakai kerudung warna hitam polos; b. memakai seragam baju muslimah berwarna putih; c. memakai seragam rok warna hitam atau gelap; dan d. memakai sepatu.
BAB VII - Tata Tempat
Section titled “BAB VII - Tata Tempat”Pasal 16
- (1) Fungsionaris pengurus harian yang akan dilantik berdiri dan/ atau berjajar menghadap ke tamu undangan dan peserta.
- (2) Pemimpin baiat berdiri menghadap ke fungsionaris pengurus harian yang akan dilantik.
BAB VIII - Pelantikan Susulan
Section titled “BAB VIII - Pelantikan Susulan”Pasal 17
- (1) Fungsionaris pengurus harian yang berhalangan hadir dalam pelantikan kepengurusan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, wajib mengikuti pelantikan susulan yang dipimpin oleh Rais ‘Aam atau Rais kepengurusan di tingkat masing-masing selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak dilaksanakannya pelantikan sebelumnya.
- (2) Fungsionaris pengurus harian hasil Pergantian Pengurus Antar Waktu, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, wajib mengikuti pelantikan susulan yang dipimpin oleh Rais ‘Aam atau Rais kepengurusan di tingkat masing-masing selambat-lambatnya 2 (dua) bulan terhitung sejak diterimanya Surat Keputusan dari Kepengurusan yang berwenang.
- (3) Susunan acara pelantikan susulan, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
- (2), sekurang-kurangnya terdiri dari: a. pembacaan Surat Keputusan Kepengurusan; b. Pembaiatan Pengurus harian Kepengurusan; dan c. doa/penutup.
BAB VII - Ketentuan Penutup
Section titled “BAB VII - Ketentuan Penutup”Pasal 10
- (1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini akan diatur kemudian dalam Peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
- (2) Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 7 Sya’ban 1446 H 6 Februari 2025 M Lampiran: PERATURAN PERKUMPULAN NOMOR 6 TAHUN 2025