Kata Pengantar Rais 'Aam
# Kata Pengantar Rais ‘Aam > Sumber hlm. PDF 5–9 Kata Pengantar RAIS ‘AAM > [teks Arab, lihat dokumen asli] > [teks Arab, lihat dokumen asli] Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah- belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). > [teks Arab, lihat dokumen asli] Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Surah Yusuf 108) > [teks Arab, lihat dokumen asli] Alhamdulillah, setelah melalui proses harmonisasi yang memerlukan ketelitian sekaligus memakan waktu, buku Kumpulan Hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama Tahun 2025 ini akhirnya dapat diterbitkan dan disajikan di hadapan sidang pembaca. Dalam catatan sejarah, Konferensi Besar (Konbes) Syuriyah Nahdlatul Ulama diselenggarakan pertama kali pada 19 Maret 1957 di Surabaya. Masalah yang dibahas dan diputuskan kala itu antara lain soal hukum perempuan menjadi DPR/DPRD, bunga bank, dan lotre. Konbes Pengurus Besar Syuriah kembali digelar pada 18-22 April 1960 dan 11-13 Oktober 1961. Keduanya diselenggarakan di Jakarta. Sedikitnya terdapat 27 masalah yang diputuskan hukumnya dalam dua kali Konbes tersebut. Termasuk hukum family planning (perencanaan keluarga), dan land reform. Dalam perkembangannya, selain istilah Konferensi Besar (Konbes), juga mulai muncul istilah “Musyawarah Alim Ulama” dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU hasil Muktamar ke-26 di Semarang
- (1979). Pasal 11 ayat 7 ART NU saat itu menegaskan, salah satu tugas Pengurus Syuriyah adalah “Menyelenggarakan Musyawarah Alim Ulama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun sekali pada tingkat nasional dan 1 (satu) tahun sekali pada tingkat Wilayah dan Cabang. Dalam musyawarah tersebut diundang juga tokoh- tokoh Ulama Ahlussunnah wal Jamaah di luar Pengurus Jam’iyah.” Musyawarah Alim Ulama tingkat nasional, atau yang kemudian disebut sebagai “Munas Alim Ulama”, terselenggara pertama kali pada 30 Agustus-2 September 1981 di Kaliurang, Yogyakarta. Keputusan penting yang dihasilkan dari Munas Alim Ulama tersebut adalah mengukuhkan KH Ali Maksum sebagai Rais ‘Aam PBNU menggantikan KH Bisri Syansuri yang wafat pada tahun 1980. Setelah itu, Munas Alim Ulama diselenggarakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, pada 13-16 Rabiul Awal 1404 H/18-21 Desember 1983 M. Setelah 1983, penyelenggaraan Munas Alim Ulama berikutnya hampir selalu dihelat bersamaan dengan agenda Konbes NU. Dimulai tahun 1987, bertempat di Pondok Pesantren Ihya Ulumuddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah. Selanjutnya, Munas Alim Ulama tahun 1992 diselenggarakan di Bandar Lampung, dan tahun 1997 di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Berikutnya, Munas Alim Ulama dan Konbes NU diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta
- (2002), Asrama Haji Sukolilo, Surabaya
- (2006), Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat
- (2012), Lombok, Nusa Tenggara Barat
- (2017), dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat
- (2019). Kemudian, setelah sempat tertunda karena Pandemi Covid-19, tiga kali agenda Munas dan Konbes NU dihelat di Jakarta (2021, 2023 dan 2025). Pada tahun 2022 dan 2024, karena kebutuhan untuk fokus pada penyusunan regulasi dalam bentuk Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama, Konbes NU digelar tanpa dibarengkan agenda Munas Alim Ulama. Meski levelnya berada satu tingkat di bawah Muktamar, Munas Alim Ulama dan Konbes NU menjadi forum yang sangat penting. Sebab, keputusan-keputusan yang dihasilkan forum ini sangat dibutuhkan bangsa dan negara, serta jamaah dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Hasil-hasil Munas dan Konbes NU Tahun 2025 diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertajam ikhtiar rekontekstualisasi pemikiran pendahulu NU dalam bingkai Trilogi Ukhuwah. Yaitu, persaudaraan sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah), sesama anak bangsa (Ukhuwah Wathaniyah), dan sesama manusia (Ukhuwah Basyariyah). Juga, penekanan agar pengurus dan warga NU menunjukkan “Ukhuwah Nahdliyah” sebagai cerminan moral prima menuju puncak bonus demografi, yang dilanjutkan harapan besar lahirnya “Generasi Emas”. Hal itu sangat penting, agar momentum bonus demografi tidak berbalik menjadi “musibah demografi” yang melahirkan “Generasi Cemas”. Saat ini, agenda menyiapkan kader militan dan solutif bagi umat menjadi sesuatu yang sangat urgen. Karena itu, kita harus selalu dalam kewaspadaan atau muroqobah yang prima menghadapi zaman yang semakin menunjukkan sifat “pancaroba pemahaman” ini. Zaman ketika semakin banyak orang yang menipis kemampuannya untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan, kecuali mereka yang selalu dalam lindungan taufiq dan hidayah Allah SWT. Firman Allah SWT ini semoga bisa menjadi bagian pengingat kita: > [teks Arab, lihat dokumen asli] “Sungguh, kamu dahulu benar-benar lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan penutup matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam” (Surah Qaf, 22). Saya berharap, buku ini benar-benar menjadi pedoman para fungsionaris dan pemangku amanah kepengurusan dalam berkhidmat di organisasi sebesar Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Materi yang disajikan dalam buku ini merupakan bukti bahwa Jam’iyah ini secara serius dan terus menerus berusaha menebar manfaat dan maslahat, serta menjadikannya tetap relevan dalam khidmahnya kepada umat, bangsa dan negara. Semoga Allah SWT meridhai dan memudahkan ikhtiar kita semua. Amien. > [teks Arab, lihat dokumen asli] KH. Miftachul Akhyar Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama